Minggu, 20 April 2014

KEHIDUPAN MASYARAKAT TOBUNGKU DULU DAN SEKARANG


     Sebagaimana kehidupan masyarakat lainnya di dunia ini, maka begitu pula dengan kehidupan masyarakat Tobungku, yakni adanya kesinambungan antara kehidupan di masa lalu dengan kehidupan yang sedang berlangsung saat ini, atau dengan kata lain kehidupan masyarakat Tobungku saat ini sangat dipengaruhi oleh pola kehidupan masyarakat sebelumnya. 
     Pengaruh dari  kehidupan di masa lalu itu dapat kita telusuri melalui bahasa, agama, teknik bercocok tanam, teknik pelayaran, tarian khas daerah, pola pergaulan serta unsur-unsur budaya lainnya. Faktor-faktor tersebut diatas diwariskan dari generasi ke generasi dan seiring berlangsungnya waktu, maka faktor-tersebut diatas mengalami perkembangan serta modifikasi sehingga bila kita membandingkan catatan mengenai faktor-faktor itu di masa lalu dengan keadaan sekarang kita sering menjumpai adanya perbedaan yang menyolok. Oleh karena itu sebaiknya kita tidak hanya melihatnya pada keadaan sekarang agar kita tidak membuat kekeliruan yang serius tanpa kita sadari.
    Akan halnya dengan aspek kehidupan masyarakat Tobungku (dengan singkat biasa disebut "Bungku") sering dijumpai adanya persepsi yang melenceng baik dari kalangan masyarakat umum ataupun akademisi bahkan tidak jarang juga terjadi pada beberapa anthropolog yang mencoba mendalami budaya Tobungku.
Masjid Tua Labua, ikon budaya Tobungku


Kesalahan persepsi dapat disebabkan oleh berbagai hal yang bersifat kompleks. Kalau masyarakat umum yang melakukan kekeliruan, itu merupakan hal yang wajar dan dapat dimaklumi. Namun sebagai akademisi atau peneliti yang menelaah suatu kebudayaan terutama kebudayaan Tobungku, seharusnya berhati-hati dalam membuat kesimpulan, karena apa yang dipublikasikan oleh akademisi maupun peneliti, itu akan menjadi rujukan ataupun sumber informasi bagi akademisi maupun peneliti berikutnya, agar tidak mewariskan kesalahan yang dapat merubah pandangan ataupun kesimpulan orang tentang kebudayaan Tobungku pada masa-masa yang akan datang. 


Budaya pada suatu masyarakat terdiri dari unsur-unsur yang bersifat universal dan dapat ditemukan pada semua bentuk kebudayaan.  Adapun unsur-unsur yang dapat diidentifikasi pada setiap kebudayaan meliputi hal-hal yang bersifat abstrak, kompleks dan berlaku menyeluruh pada pemilik kebudayaan itu. Unsur-unsur itu meliputi : system bahasa, system kepercayaan/agama, system tatanan kemasyarakatan, sistem pemerintahan system pengetahuan, kesenian, system mata pencaharian/ekonomi dan system kepercayaan/agama.

1. Sistem Bahasa

      Bahasa merupakan ungkapan lisan dan tulisan untuk menjelaskan maksud dalam komunikasi antar individu. Sistem bahasa berkembang dalam suatu suku /bangsa dan terus berkembang mengikuti dinamika  hubungan suatu suku/bangsa dengan individu dari suatu suku/bangsa lainnya sehingga kadang-kadang kita kesulitan dalam menentukan batas penyebaran suatu bahasa. Pada Suku/bangsa Tobungku, system bahasa ini telah berkembang dan menunjukan pola bahasa yang khas dan sangat berbeda dengan rumpun-rumpun bahasa dari daerah yang ada disekitarnya. Umumnya pengguna bahasa Tobungku berdiam di sepanjang pesisir pantai timur Sulawesi (kawasan Teluk Tolo). Beberapa ahli bahasa mengelompokan Bahasa Tobungku sebagai induk bahasa di daerah Sulawesi  Tengah bagian selatan hingga ke daerah Sulawesi Tenggara. Dalam pengelompokan bahasa di sebut kelompok bahasa Bungku-Laki. Beberapa antropolog menyatakan bahwa bahasa ini telah dikembangkan oleh suatu bangsa proto Tobungku yang dari padanya melahirkan beberapa dialek yang berkembang dan membentuk system tersendiri seperti : bahasa Tomori, bahasa Toro’uta, bahasa Tolaki serta bahasa-bahasa yang digunakan di sekitar danau Tovuti dan danau Matano, juga beberapa daerah di pulau Buton. Hal ini dapat kita amati dari adanya penyebutan benda ataupun istilah-istilah dasar yang berbeda dengan beberapa bahasa induk yang ada di beberapa daerah sekitarnya. Misalnya ; Mongkaa (makan), Lumako (pergi), Raha (rumah), Mokula (panas), Torukuno (gunung), Umahi (mengisi wadah dengan air), Mesofi (panen padi) dan masih banyak lainnya yang sama sekali tidak menunjukan kesamaan atau kemiripan bunyi dengan bahasa-bahasa daerah lain di pulau sulawesi seperti bahasa bugis, kaili, minahasa, balantak maupun bahasa buton.