Sebagaimana kehidupan masyarakat lainnya di dunia ini, maka begitu pula dengan kehidupan masyarakat Tobungku, yakni adanya kesinambungan antara kehidupan di masa lalu dengan kehidupan yang sedang berlangsung saat ini, atau dengan kata lain kehidupan masyarakat Tobungku saat ini sangat dipengaruhi oleh pola kehidupan masyarakat sebelumnya.
Pengaruh dari kehidupan di masa lalu itu dapat kita telusuri melalui bahasa, agama, teknik bercocok tanam, teknik pelayaran, tarian khas daerah, pola pergaulan serta unsur-unsur budaya lainnya. Faktor-faktor tersebut diatas diwariskan dari generasi ke generasi dan seiring berlangsungnya waktu, maka faktor-tersebut diatas mengalami perkembangan serta modifikasi sehingga bila kita membandingkan catatan mengenai faktor-faktor itu di masa lalu dengan keadaan sekarang kita sering menjumpai adanya perbedaan yang menyolok. Oleh karena itu sebaiknya kita tidak hanya melihatnya pada keadaan sekarang agar kita tidak membuat kekeliruan yang serius tanpa kita sadari.
Akan halnya dengan aspek kehidupan masyarakat Tobungku (dengan singkat biasa disebut "Bungku") sering dijumpai adanya persepsi yang melenceng baik dari kalangan masyarakat umum ataupun akademisi bahkan tidak jarang juga terjadi pada beberapa anthropolog yang mencoba mendalami budaya Tobungku.
Akan halnya dengan aspek kehidupan masyarakat Tobungku (dengan singkat biasa disebut "Bungku") sering dijumpai adanya persepsi yang melenceng baik dari kalangan masyarakat umum ataupun akademisi bahkan tidak jarang juga terjadi pada beberapa anthropolog yang mencoba mendalami budaya Tobungku.
| Masjid Tua Labua, ikon budaya Tobungku |
Kesalahan persepsi dapat disebabkan oleh berbagai hal yang
bersifat kompleks. Kalau masyarakat umum yang melakukan kekeliruan, itu
merupakan hal yang wajar dan dapat dimaklumi. Namun sebagai akademisi atau
peneliti yang menelaah suatu kebudayaan terutama kebudayaan Tobungku,
seharusnya berhati-hati dalam membuat kesimpulan, karena apa yang
dipublikasikan oleh akademisi maupun peneliti, itu akan menjadi rujukan ataupun
sumber informasi bagi akademisi maupun peneliti berikutnya, agar tidak
mewariskan kesalahan yang dapat merubah pandangan ataupun kesimpulan orang
tentang kebudayaan Tobungku pada masa-masa yang akan datang.
Budaya pada suatu masyarakat terdiri dari unsur-unsur yang
bersifat universal dan dapat ditemukan pada semua bentuk kebudayaan. Adapun unsur-unsur yang dapat diidentifikasi
pada setiap kebudayaan meliputi hal-hal yang bersifat abstrak, kompleks dan
berlaku menyeluruh pada pemilik kebudayaan itu. Unsur-unsur itu meliputi :
system bahasa, system kepercayaan/agama, system tatanan kemasyarakatan, sistem pemerintahan system
pengetahuan, kesenian, system mata pencaharian/ekonomi dan system
kepercayaan/agama.
1. Sistem Bahasa
Bahasa merupakan ungkapan
lisan dan tulisan untuk menjelaskan maksud dalam komunikasi antar individu.
Sistem bahasa berkembang dalam suatu suku /bangsa dan terus berkembang
mengikuti dinamika hubungan suatu suku/bangsa
dengan individu dari suatu suku/bangsa lainnya sehingga kadang-kadang kita
kesulitan dalam menentukan batas penyebaran suatu bahasa. Pada Suku/bangsa
Tobungku, system bahasa ini telah berkembang dan menunjukan pola bahasa yang
khas dan sangat berbeda dengan rumpun-rumpun bahasa dari daerah yang ada
disekitarnya. Umumnya pengguna bahasa Tobungku berdiam di sepanjang pesisir
pantai timur Sulawesi (kawasan Teluk Tolo). Beberapa ahli bahasa mengelompokan
Bahasa Tobungku sebagai induk bahasa di daerah Sulawesi Tengah bagian selatan hingga ke daerah
Sulawesi Tenggara. Dalam pengelompokan bahasa di sebut kelompok bahasa
Bungku-Laki. Beberapa antropolog menyatakan bahwa bahasa ini telah dikembangkan
oleh suatu bangsa proto Tobungku yang dari padanya melahirkan beberapa dialek
yang berkembang dan membentuk system tersendiri seperti : bahasa Tomori, bahasa
Toro’uta, bahasa Tolaki serta bahasa-bahasa yang digunakan di sekitar danau
Tovuti dan danau Matano, juga beberapa daerah di pulau Buton. Hal ini dapat
kita amati dari adanya penyebutan benda ataupun istilah-istilah dasar yang berbeda dengan beberapa bahasa induk yang
ada di beberapa daerah sekitarnya. Misalnya ; Mongkaa (makan), Lumako (pergi), Raha (rumah), Mokula (panas), Torukuno (gunung), Umahi (mengisi wadah dengan air), Mesofi (panen padi) dan masih banyak lainnya yang sama sekali tidak menunjukan kesamaan atau kemiripan bunyi dengan bahasa-bahasa daerah lain di pulau sulawesi seperti bahasa bugis, kaili, minahasa, balantak maupun bahasa buton.